Selasa, 02 Agustus 2011

EFEK BERMAIN GAME TERLALU LAMA PADA KESEHATAN DARAH


Menunggu waktu berbuka puasa sambil main video games memang bisa membuat waktu terasa lebih cepat berlalu. Akan tetapi sebaiknya Anda membatasi kegiatan tersebut. Duduk dalam posisi sama terlalu lama bisa memicu bekuan darah dan peradangan pada pembuluh vena.

Salah satu korban dari bekuan darah atau deep vein thrombosis/DVT adalah seorang pemain games berusia 20 tahun yang meninggal setelah secara marathon bermain games. Menurut hasil otopsi ia tewas akibat penyumbatan arteri di bagian paru-paru.

Bahaya utama dari trombosis pada vena dalam tubuh adalah terlepasnya sebagian bekuan darah yang ikut aliran darah ke atas dan bersarang pada pembuluh darah dalam paru yang disebut emboli paru. Bekuan darah juga bisa mengancam nyawa jika bersarang di otak karena akan memicu stroke.

Komplikasi yang mengganggu namun tidak berbahaya adalah penyumbatan dalam vena dengan pembengkakan tungkai yang menetap. Perawatan yang dilakukan adalah penghangatan bagian yang terkena, pengangkatan kaki, serta pemakaian obat antiradang. Bisa jadi juga diperlukan perawatan di rumah sakit. 

Kondisi tersebut banyak dialami oleh mereka yang lama berbaring di tempat tidur misalnya pasien operasi atau lumpuh, duduk terlalu lama di perjalanan dengan mobil atau pesawat juga bisa memicu DVT. Karena itulah sangat disarankan untuk mengambil jeda dan berjalan-jalan meluruskan kaki saat berada dalam kendaraan.

"Sangat tidak sehat jika anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya bermain games. Main games memang menyenangkan tapi begitu kita main sangat sulit menghentikannya. Mereka tidak sadar hal itu bisa membunuh mereka," kata David Staniforth, yang anaknya meninggal akibat DVT.

Sebelum roboh, Staniforth mengeluhkan detak jantungnya melemah. David menyebutkan putranya itu bisa menghabiskan waktunya bermain games hingga 12 jam setiap hari.

Kematian Stanifort bukanlah kasus yang pertama. Tahun 2005 lalu pemain games dari Korea Selatan juga meninggal setelah bermain games tiga hari berturut-turut tanpa istirahat.
http://health.kompas.com

Disleksia: Susah Mengenali Kata-Kata


Apa itu disleksia? Disleksia adalah kerusakan pada kemampuan otak untuk menerjemahkan tulisan yang diterima oleh mata menjadi bahasa yang bermakna. Kelainan ini juga disebut ketidakmampuan membaca. Disleksia adalah ketidakmampuan belajar yang paling sering terjadi pada anak-anak.
Disleksia biasanya terjadi pada anak-anak dengan daya penglihatan dan kecerdasan yang normal. Anak-anak dengan dyslexia biasanya dapat berbicara dengan normal, tetapi memiliki kesulitan dalam menginterpretasikan “spoken language” dan tulisan.

Gejala
Gejala disleksia mungkin sulit disadari sebelum anak masuk sekolah, tetapi beberapa gejala awal dapat mengidentifikasi masalah tersebut. Ketika anak mencapai usia sekolah, guru dari anak mungkin menjadi yang pertama menyadari masalah tersebut.
Sebelum sekolah
Tanda dan gejala anak yang mungkin berisiko disleksia antara lain:
  • Terlambat berbicara
  • Menambah kosa kata dengan lambat
  • Kesulitan “rhyming” (rima kata)
Usia Sekolah 
Ketika anak di sekolah, gejala disleksia mungkin menjadi lebih terlihat, termasuk di antaranya:
  • Membaca pada tingkat (level) di bawah apa yang diharapan untuk usia anak
  • Bermasalah dalam memproses dan memahami sesuatu yang anak dengar
  • Kesulitan dalam memahami secara utuh instruksi yang cepat
  • Bermasalah dalam mengikuti instruksi lebih dari satu dalam waktu yang bersamaan
  • Ketidakmampuan untuk mengucapkan pelafalan dari kata-kata yang tidak familiar
  • Kesulitan melihat (dan pada saat tertentu mendengar) persamaan dan perbedaan di dalam surat atau kata-kata.
  • Melihat surat/ kata-kata secara terbalik (b untuk d atau “saw” untuk “was”)–walaupun melihat kata-kata atau surat secara terbalik itu biasa untuk anak kecil, yang tidak mengalami disleksia, di bawah umur 8 tahun. Anak yang mengalami disleksia akan terus melihat secar terbalik setelah melewati umur tersebut.
  • Kesulitan mengeja
  • Sulit mempelajari bahasa asing

Penyebab & Faktor Risiko
Ketidakmampuan dalam belajar adalah kondisi yang memunculkan perbedaan antara kemampuan seseorang dan performanya. Kebanyakan orang dengan disleksia memiliki tingkat kecerdasan rata-rata atau di bawah rata-rata. Tetapi, tingkat (level) membaca yang signifikan rendah dari yang diharapkan. Tipe lain lain ketidakmampuan belajar termasuk sulitan berkonsentrasi, ketidakmampuan untuk tampil dengan baik dalam menulis dan mengerjakan soal matematika.

Penanganan
Anak dengan disleksia membutuhkan pengajaran secara individu dan pengobatan untuk disleksia sering melibatkan program pendidikan multisensor. Dukungan moril dari orang tua juga menjadi bagian yang penting.
  
Sumber: health.kompas.com

Senin, 01 Agustus 2011

Puasa dan Menghindari Gagal Ginjal


Gagal ginjal hingga memerlukan cuci darah kebanyakan merupakan akibat diabetes melitus. Jumlah kasusnya mencapai 45 persen, disusul akibat tekanan darah tinggi sebesar 28 persen.
”Kegagalan ginjal akibat diabetes melitus atau nefropati diabetik bisa dicegah dengan cara mengontrol kadar gula dan tekanan darah,” kata dokter spesialis penyakit dalam Budiman Darmowidjojo dari Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rabu (27/7) di Jakarta.
Budiman menyampaikan hal itu dalam Media Edukasi Jakarta Diabetes Meeting ke-20 bertema ”Menghindari Kerusakan Ginjal pada Pasien Diabetes Melitus”. Narasumber lain adalah Kepala Divisi Metabolik Endokrin FKUI Imam Subekti.
Budiman mengatakan, gagal ginjal berupa kebocoran selaput penyaring darah pada ginjal mengakibatkan gangguan pengeluaran zat racun lewat urine. Akibatnya, zat-zat racun itu tertimbun dalam darah dan menimbulkan risiko kematian. Karena itu, penderita perlu cuci darah (hemodialisis) untuk membuang zat-zat racun yang menumpuk.
Beberapa gejala awal penumpukan zat racun, antara lain, sulit tidur, selera makan berkurang, sakit perut, lesu, dan sulit berkonsentrasi. Deteksi dini yang dianjurkan adalah mengukur kadar mikroalbuminuria (protein dalam urine).
Ancaman anemia
Kerusakan ginjal juga berdampak pada gangguan pembuatan sel darah merah di sumsum tulang belakang. Produksi sel darah merah akan menurun sehingga terjadi gejala-gejala anemia.
”Dibutuhkan pemeriksaan kadar gula dan tekanan darah, serta lemak darah bagi penderita diabetes secara rutin untuk mencegah nefropati diabetik,” kata Budiman.
Nefropati diabetik ditandai bengkak pada kaki dan wajah, mual, muntah, lesu, sakit kepala, gatal, sering cegukan, dan penurunan berat badan. Seringkali gejala ini tidak menimbulkan rasa sakit sehingga menyulitkan deteksi secara dini.
Imam Subekti mengatakan bahwa penderita diabetes (diabetesi) bisa menjalankan ibadah puasa. Untuk itu diabetesi perlu berkonsultasi terkait perubahan kadar obat kepada dokter lebih dulu. ”Ada masalah hipoglikemi yang harus diantisipasi,” kata Imam.
Hipoglikemi merupakan kondisi kekurangan kadar gula dalam darah. Menurut Imam, hipoglikemi jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan hiperglikemi (kelebihan kadar gula darah).
Merusak otak
”Hipoglikemi dalam hitungan menit bisa merusak jaringan sel otak hingga rusak secara permanen, sedangkan hiperglikemi prosesnya dalam hitungan hari,” kata Imam.
Dalam sebuah penelitian, Imam mengatakan bahwa berpuasa bagi diabetesi memberikan manfaat penurunan berat badan sampai 50 persen. Hanya 6 persen yang justru naik berat badannya.
”Sepanjang kadar gula darah dapat dikendalikan dengan baik, diabetesi dapat berpuasa dan tetap sehat,” kata Imam. 
kompas.com

Cairan yang membuat pakaian bisa bebas kuman dan bakteri


Selain masalah kotor, pakaian juga tidak terlepas dari kuman yang menempel dan itu artinya bisa menjadi sarang penyakit.

Berita baiknya, tim peneliti dari University of Georgia yang dipimpin oleh Dr. Jason Locklin berhasil menemukan sebuah bahan cair yang bisa membuat pakaian anti kuman.

Cairan ini cukup disemprotkan ke pakaian maka pakaian akan bebas dari berbagai macam kuman atau bakteri seperti E. Coli yang lagi ramai belakangan ini.

Cairan yang sudah disemprot ini akan tetap menempel walaupun pakaian telah dicuci berkali-kali tetapi tidak disebutkan juga berapa lama anti kuman ini bisa terus menempel di pakaian.

Walaupun di satu sisi mereka mengatakan bahwa produk seperti ini sudah banyak penemuannya tetapi yang mereka ciptakan itu lebih murah, tahan lama dan bisa diapliksikan ke segala jenis pakaian.

Saat ini tujuan mereka agar cairan ini bisa digunakan di rumah sakit dimana kita tahu sebenarnya rumah sakit memang salah satu "ladang" berbagai kuman dan bakteri.

Puasa Memperlambat Penuaan


Puasa bagi umat Islam adalah tidak makan dan minum serta menghentikan segala sesuatu yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Selain menahan haus dan lapar, dari sisi ilmu kedokteran, berpuasa ternyata bisa memberikan Anda sejumlah manfaat kesehatan.
Menurut dr Siti Setiati, SpPD, spesialis penyakit dalam dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indoenesia (FKUI), dengan berpuasa, jumlah kalori makanan akan berkurang.
"Pembatasan jumlah kalori makanan adalah salah satu cara yang telah terbukti dapat memperlambat penuaan serta mencegah penyakit yang sering timbul pada usia lanjut dan kanker," katanya, Rabu (27/7/2011) di Jakarta.
Saat berpuasa, umumnya akan terjadi pengurangan jumlah kalori yang diasup hingga 10-40 persen dari kebutuhan sehari-hari. Hasil penelitian pada binatang menunjukkan, dengan mengurangi jumlah kalori, ternyata dapat memperpanjang usia harapan hidup, menurunkan risiko kanker, serta mencegah berkembangnya penyakit, seperti diabetes dan ginjal.
"Penelitian pada manusia juga sudah ada. Hasilnya, komposisi lemak tubuh berkurang, tekanan darah membaik, kolesterol turun, risiko diabetes berkurang, dan dapat memperlambat proses penuaan," katanya.
Siti mengatakan, berbagai penelitian dan literatur memang telah membuktikan manfaat puasa bagi kesehatan. Namun, seseorang tentu tidak akan langsung merasakan khasiatnya jika hanya puasa sebulan. "Ini tentu bukan puasa yang hanya dilakukan satu bulan saja, tetapi harus terus-menerus dilakukan dalam bulan-bulan berikutnya," katanya.
Manfaat restriksi (pembatasan) kalori, kata Siti, juga berpengaruh pada kesehatan jantung. Pembatasan kalori dipercaya dapat memompa jantung menjadi lebih kuat dan membuat seseorang tidak mudah lelah setelah melakukan aktivitas atau olahraga.
Sementara itu, DR dr Ari Fahrial Syam, SpPD, ahli kesehatan pencernaan dari RSUPN Cipto Mangungkusumo, mengatakan, proses puasa yang dijalankan idealnya bukanlah yang bersifat "balas dendam", yakni membalaskan atau makan semaunya di luar jam puasa. Sebab, dalam proses berpuasa, pada dasarnya harus ada penurunan berat badan.
Menurut Ari, puasa dapat diistilahkan seperti konsep alternate day fasting, di mana dalam satu hari setengah makan, setengah berpuasa. Tujuan di situ adalah pengurangan asupan kalori. "Biasanya penurunan berat badan sekitar 5 persen," katanya.
Ari menegaskan, jika seseorang mengalami penurunan berat badan, akan diikuti dengan penurunan kalori, kolesterol, lemak, radikal bebas, dan peningkatan antioksidan. Saat berpuasa, ada baiknya mengonsumsi sayur dan buah yang mengandung banyak antioksidan.
Pasalnya, dengan banyak makan sayur dan buah, sebenarnya di dalam usus telah terjadi penyerapan kolesterol dan pengurangan gula oleh serat-serat.
"Prinsipnya, kalau kita berpuasa, tubuh tetap memproduksi gula dan lemak dihancurkan. Dengan lemak dihancurkan, otomatis timbunan-timbunan yang tidak perlu jadi berkurang. Efeknya penurunan berat badan," katanya.

Waspadai, Gagal Ginjal Sering Kali Tanpa Gejala!


Seorang wanita yang sedang berbaring di tempat tidur sebuah rumah sakit tampak setengah tak percaya saat mendengar ucapan dokter yang merawatnya. Dokter mengatakan, ginjalnya sudah rusak, tidak bisa lagi berfungsi dan ia disarankan untuk segera menjalani proses cuci darah sebagai pengganti ginjal.

Seumur hidupnya, belum pernah wanita ini berpikir akan menjalani proses cuci darah. Namun, kenapa ia bisa mengalami hal ini? Padahal, ia selama ini tidak pernah mengalami gejala atau keluhan sakit apa pun?

Ilustrasi kasus di atas sering kali ditemukan di masyarakat. Bisakah seseorang tiba-tiba divonis mengalami gagal ginjal kronik tanpa sebelumnya menunjukkan gejala? Jawabannya adalah ya.

Menurut dr Candra Wibowo, SpPD, spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Mitra, Kemayoran, Jakarta, masyarakat memang perlu mewaspadai penyakit ginjal kronik (PGK) karena penyakit yang satu ini tidak memberikan gejala peringatan dini.

Sering kali fungsi ginjal pasien diketahui sudah jauh memburuk sehingga harus digantikan segera dengan terapi pengganti ginjal (TPG) seperti hemodialisis atau dikenal juga dengan sebutan cuci darah, peritoneal dialisis. Jika memungkinkan, dilakukan cangkok ginjal untuk menggantikan ginjal yang rusak.

Di Indonesia, banyak pasien datang berobat ke dokter dengan kondisi PGK pada stadium lanjut karena tak mengalami keluhan selama bertahun-tahun. Candra menjelaskan, pasien kerap datang dalam stadium lanjut tanpa gejala sebelumnya. Padahal, penurunan fungsi ginjal sebenarnya terjadi secara bertahap dalam waktu lama sehingga tubuh sudah mengadaptasinya tanpa keluhan yang berarti.

Namun, ketika PGK mencapai stadium lanjut, tubuh tidak dapat lagi mengeluarkan zat-zat yang harusnya keluar dari tubuh. Sebagai akibatnya, zat yang harusnya keluar tersebut menjadi racun bagi tubuh kita.

Semakin lama tumpukan racun dan sisa metabolisme sel dapat memberikan gejala mual, muntah, selera makan turun, bengkak, batuk, dan sesak, kulit kering dan gatal, bahkan napas bau urine. Akibat yang fatal bisa terjadi, seperti irama jantung menjadi tidak teratur, gagal jantung, dan penurunan kesadaran yang disebut koma uremikum, sampai meninggal mendadak. Jika sudah mengalami gejala seperti di atas, mau tidak mau dibutuhkan terapi pengganti ginjal secepatnya sehingga biasanya pasien akan disarankan untuk dicuci darahnya secepatnya oleh dokter.

Bagaimana kita dapat mengenal gejala dan tanda-tanda dini PGK? Pasien harus melakukan deteksi dini dengan cara penapisan (screening), terutama pada orang yang mempunyai faktor risiko PGK. Mereka adalah pengidap diabetes melitus atau kencing manis, darah tinggi, obesitas, kolesterol, asam urat, batu saluran kemih, dan infeksi saluran kemih berulang. 

Pasien dengan riwayat pernah mengalami gangguan fungsi ginjal, atau memiliki riwayat penyakit dalam keluarga dengan penyakit ginjal hendaknya juga melakukan deteksi dini. Kita yang berusia lebih 40 tahun tanpa gejala sebaiknya juga melakukan penapisan umum (general medical check-up) untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan secara keseluruhan.

Hal ini penting karena penyebab sebagian besar (60-70 persen) PGK adalah sekunder, yang artinya penyakit awalnya bukan berasal dari ginjal itu sendiri, tetapi berasal dari penyakit sistem organ lain seperti diabetes, hipertensi, hiperurisemia, kolesterol, obesitas, penyakit jantung dan hati, serta otoimun.

Dengan mengendalikan faktor risiko, kita dapat mencegah PGK atau memperlambat kerusakan ginjal lebih lanjut sehingga tidak masuk ke stadium akhir yang memerlukan TPG. 

"Mengendalikan faktor risiko tersebut tidak harus selalu dengan obat, tapi yang paling mudah yang dapat Anda lakukan adalah perubahan gaya hidup dan hal ini merupakan pilar utama dalam pencegahan PGK. Gaya hidup sehat yang melekat dalam aktivitas sehari-hari amat membantu dalam membentuk kesehatan jasmani dan rohani kita," papar Candra.

Menurunkan berat badan adalah PR yang sulit bagi mereka yang sudah dalam kondisi obesitas. Diet dan olahraga hendaknya dipahami benar sehingga target berat badan ideal dapat dicapai. Makanan tidak sehat yang sering kali dikonsumsi saat waktu luang dapat diganti dengan buah-buahan sebagai cemilan sehat.

Lebih lanjut, Candra menyarankan untuk mengurangi menu berlemak, makanan manis, dan junk food. Makanan cepat saji harus dihindari karena merupakan makanan tak sehat. Olahraga juga sebaiknya dilakukan minimal empat kali seminggu dan selama 30 menit tiap sesi.

Diet dan olahraga yang baik terbukti dapat mencegah PGK dan menurunkan progresivisitas dari PGK. Dengan gaya hidup yang sehat tersebut, kita dapat mengendalikan penyakit-penyakit dasar yang menjadi faktor risiko PGK.
kompas.com

Yotaro baby simulator: cara untuk mengetahui anda sudah siap punya momongan atau belum


Sudah siap untuk punya bayi atau masih kuatir jika anda merasa belum bisa mewarat bayi?

Sudah banyak produk bayi simulator untuk membuat orang belajar tetapi tidak ada yang senyata ini, ehmmm, kecuali bentuknya yang agak aneh.


Yotaro Baby Simulator adalah sebuah bayi simulator yang dibuat oleh University of Tsukuba, Jepang dimana diketuai oleh Hiroki Kunimura.

Bayi simulator ini dilengkapi dengan layar interaktif yang menampilkan wajah si bayi dalam 2 dimensi yang bisa berekspresi dan bergerak seperti layaknya seorang bayi sungguhan.

Ketika anda menyentuhkan, ekspresi mukanya bisa berubah senang atau sebaliknya dan bahkan bisa mengeluarkan air mata sungguhan.

Nah, anda bisa belajar dulu pake ini, kalau si bayi nangis terus ketika anda sentuh berarti anda belum siap atau terlalu kasar kali menyentuhnya.






Sumber